Senin, 26 Maret 2012

Khaulah binti Tsa'labah, Do'a yang Tak Bertabir

Khaulah binti Malik bin Tsa'labah adalah shahabiyyah yang dikenal fasih bicaranya, cerdas, dan bijak tutur katanya. Ia tidak bernah gegabah dalam bertindak. Setiap mengambil keputusan Khaulah selalu mentaati Allah dan rasul-Nya. Khaulah menikah dengan sepupunya, Aus bin As-Shamit.

Suatu hari, Aus bin As-Shamit berbuat kesalahan dengan mengatakan, "Khaulah, sesungguhnya engkau adalah sama seperti punggung ibuku." Khaulah sangat kaget dan berkata, "Wahai sepupuku, aku tidak tahu apa keputusan Allah atas dirimu setelah apa yang sudah kamu katakan." Setelah itu Khaulah menolak ketika Aus hendak mencampurinya dan segera menemui Rasulullah  untuk mengetahui keputusan apa yang harus diambilnya.


Setelah mendengar cerita Khaulah, Rasulullah segera memanggil Aus untuk menanyakan kebenaran cerita tersebut. Aus membenarkannya dan mengakui bahwa ia sudah menzhiharkan (menyamakan isterinya dengan mahramnya sendiri) Khaulah. Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Jangan kau mendekati dia dan jangan bercampur dengannya sehingga aku memberitahumu."

Sebenarnya Khaulah dapat memperkirakan hukum apa yang menimpa dirinya dan Aus, yaitu perceraian. Tetapi ia menyadari kondisi mereka sangatlah tidak mungkin untuk berpisah. Ia sangat menyayangi suaminya, dan sadar bahwa fisik suaminya sangat lemah sehingga ia tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Maka Khaulah pun langsung mengadu pada Allah swt dengan do'a, "Ya Allah, Ya Rabb. Sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang beratnya maalahku ini, dan aku berat berpisah dengan suamiku. Ya Allah, Ya Rabb. Turunkanlah atas lisan rasul-Mu apa yang akan meringankan beban kami."

Tak lama setelah itu turunlah wahyu kepada Rasulullah (Al-Qur'an surat Al-Mujadalah: 1-4) yang isinya mengatakan bahwa Allah mengetahui perkara yang terjadi antara suami isteri Khaulah-Aus, dan Allah mendengar do'a Khaulah. Keputusan Allah, seseorang yang menzhihar isterinya harus menarik kembali kata-katanya dan wajib memerdekakan budak sebelum ia boleh bercampur dengan isterinya. Dan apabila ia tidak memapu maka wajib atasnya berpuasa dua bulan berturut-turut.

Bila dikarenakan kondisi fisik, sebagaimana Aus yang sudah sangat tua dan sakit-sakaitan, seseorang itu tidak mampu melaksanakan puasa dua bulan berutur-turut, maka diwajibkan memberi makan 60 orang miskin.

Khaulah sangat gembira mendengar keputusan Allah melalui rasul-Nya. Ia segera pulang ke rumah dan memberitahukan keputusan tersebut kepada Aus yang segera melaksanakannya. Aus sangat bersyukur beristerikan Khaulah, ia pun berkata, "Sesungguhnya kalaulah bukan karena Khaulah, aku sudah binasa."

Peristiwa lainnya yang menggambarkan keberanian Khaulah adalah kejadian dimana ia bertemu dengan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab dan menasehatinya. "Bukan main megah sekali sekarang engkau Umar. Hendaklah kau bertakwa pada Allah dan ingat pada rakyat jelata, dan ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya, dan barangsiapa yang takut mati maka dia akan takut kehilangan, dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka ia takut terhadap azab Allah."

Umar mendengarkan dengan seksama kata-kata Khaulah, tetapi sebaliknya pengawal Umar sangat marah dan menghardik Khaulah. "Wahai wanita tua, sesungguhnya engkau telah melampaui batas terhadap Amirul Mukminin!" ucapnya dengan keras.

"Biarkan dia wahai Al-Jarud," kata Umar. "Apakah kau tak kenal wanita ini? Dialah Khaulah, yang kata-katanya didengar Allah dari atas langit ke tujuh. Sesungguhnya demi Allah, Umar lebih berhak untuk mendengat kata-katanya."

Sumber: Majalah Ummi, No. 9/XV

Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar