Kamis, 10 Januari 2013

Suhaib Bin Sinan, Budak Persia yang Menjadi Imam Masjid Nabawi

Dalam perkembangan dunia Islam pasca-Rasulullah saw terdapat sejarah kelam yang menimpa Khalifah Umar bin Khattab. Yaitu ketika beliau menjadi korban pembunuhan gelap yang dilakukan Luluah Fairuz. Dan ketika Khalifah Umar merasa ajalnya hampir tiba, beliau tidak tinggal diam. Khalifah segera menetapkan penggantinya sebagai imam kaum muslimin di masjid Nabawi Madinah. Karena sebelumnya, tugas imam shalat di masjid selalu dipegang sendiri oleh Khalifah. Untuk menentukan penggantinya, beliau memilih orang yang tepat sehingga dapat diterima oleh para sahabat dan pengikut setianya.

"Sebaiknya Suhaib menjadi imam shalat di masjid ini," kata Khalifah Umar dalam keadaan sakit karena tusukan pedang dari belakang ketika hendak menjadi imam shalat subuh. Yang dimaksud dengan Suhaib adalah Suhaib bin Sinan, salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. Ia dikenal taat beribadah, mudah bergaul, periang, dan sangat dermawan.


Penetapan Suhaib sebagai imam bukan tanpa dasar. Kehidupan Suhaib dipenuhi dengan kebaikan dan keutamaan. Umar juga sangat tertarik dengan kedermawanannya. "Saya lihat, kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas," kata Umar suatu ketika.

"Saya lakukan hal itu berdasar sabda Rasulullah, yang mengatakan, 'Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang suka memberi makanan kepada yang lain'," Suhaib mencoba memberi alasan.

Sejarah mencatat, Suhaib bahkan sering menghabiskan gajinya yang diperoleh dari baitulmal untuk membantu orang-orang membutuhkan. Yaitu fakir miskin, anak yatim, dan para tawanan perang. "Harta tidak ada artinya selama kita tetap teguh beriman," kata Suhaib tentang kedermawanannya. "Hati nurani berkuasa dan menentukan takdir kita," katanya menambahkan.

Rasulullah sangat menyayanginya, lantaran kesalehan dan ketakwaannya. Dalam pergaulan, ia termasuk orang yang periang dan menyenangkan. Ia bisa diterima oleh semua sahabat dan kalangan.

Ketika perintah hijrah sudah tiba, Rasulullah mengabarkan berita itu kepada para sahabat. Abu Bakar adalah orang pertama yang mendukung disusul oleh Suhaib. Dengan demikian, jika tak ada aral melintang, Suhaib adalah orang ketiga dalam rombongan yang akan berhijrah.

Tapi manusia berusaha, Tuhan jualah yang menentukan. Ketika kaum Quraisy mendengar rencana itu, mereka merencanakan upaya yang kontraproduktif. Mereka tidak menginginkan Muhammad dan pengikutnya keluar dari Makkah. Mereka kemudian mengepung kaum muslimin agar tidak bisa pergi kemana-mana. Untuk itu dibuat beberapa jebakan dan tindakan buat menghalangi kepergian kaum muslimin. Ternyata Suhaib termasuk salah seorang yang terperangkap dalam jebakan kaum Quraisy sehingga tidak dapat mengikuti rombongan hijrah bersama Nabi Muhammad saw.

Ketika berada dalam jebakan, Suhaib mencari kesempatan untuk melepaskan diri. Begitu dilihatnya orang-orang Quraisy lengah, dengan tangkas ia melompat ke atas pelana unta dan memacunya sekuat tenaga. Ia kabur ke tengah padang pasir. Namun  usaha pelarian itu gagal, karena tersusul dan ditangkap lagi. Kemudian terjadilah tawar-menawar.

"Kamu datang ke Makkah dalam keadaan miskin tapi kemudian menjadi kaya dan terhormat di negeri kami," kata para penyandera. "Sekarang kamu akan melarikan kekayaanmu ke luar Makkah. Kamu boleh keluar tetapi serahkan hartamu kepada kami."

Waktu itu, hartanya sudah disembunyikan di suatu tempat karena ada rencana hijrah. Karena ia yakin bahwa harta hanya sementara sifatnya, tawaran itu disetujui. Bersama orang-orang tersebut, Suhaib menuju ke tempat persembunyian harta dan menyerahkannya kepada mereka. Akhirnya Suhaib ditinggalkan seorang diri dan menyusul rombongan Rasulullah ke Madinah.

Begitu melihat kedatangan Suhaib, Rasul berseru dengan gembira, "Wahai Ibnu Sinan, beruntung perdaganganmu, beruntung perdaganganmu." Tentu yang dimaksud Rasulullah dengan kata-kata 'beruntung perdaganganmu' bukanlah perdagangan fisik, karena kenyataannya seluruh harta Suhaib habis dijarah oleh orang-orang Quraisy. Perdagangan yang dimaksud adalah perdagangan Suhaib dengan Allah, yakni teguhnya keimanan Suhaib bin Sinan dalam mengikuti langkah Rasulullah. Pada saat itu Allah berfirman, "Dan di antara manusia ada yang mengorbankan jiwanya untuk mencari keredaan Allah. Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Baqarah: 207).

Di kalangan masyarakat Makkah, Suhaib dikenal sebagai pedagang sukses. Itu dilatarbelakangi kondisi keluarganya. Bapaknya adalah orang Arab yang pindah ke Irak sebelum datangnya Islam. Oleh Raja Persia, ia diangkat sebagai gubernur Al-Uballah. Saat itulah Suhaib dilahirkan dan dibesarkan dalam suasana kemewahan. Ia menikmati indahnya sungai Eufrat lantaran istana gubernur berada di Mosul yang dialiri sungai tersebut.

Namun Persia jatuh ke tangan bangsa Romawi ketika Suhaib masih belia. Imperium Romawi yang mencoba meluaskan wilayah ke Iskandariah di Mesir sudah sampai ke Persia. Dalam waktu singkat negeri yang kemudian banyak melahirkan tokoh-tokoh besar muslim itu dikuasi tentara Romawi dan penduduknya kocar-kacir.

Suhaib sendiri jatuh ke tangan pedagang budak. Ia boleh dikata menghabiskan masa belia dan remaja sebagai 'barang dagangan' selama betahun-tahun, dan diperjualbelikan ke mana-mana hingga terdampar di Makkah. Di kota ini, ia dibeli oleh Abdullah bin Jud'an.

Kebebasan baru diperoleh Suhaib setelah Abdullah terpesona dengan perilaku, kecerdasan, dan kejujurannya. "Anak ini tidak pantas menjadi budak," pikir Abdullah. Suhaib bahkan diberi kesempatan untuk membantunya berdagang.

Suatu hari ketika berada di Darul Arqam, tempat Nabi biasa mengadakan ceramah, Suhaib bertemu dengan Ammar bin Yassir, pemuda Yaman yang dinikahkan dengan seorang budak perempuan. Kebetulan Rasulullah ada juga disana. Keduanya tidak saling kenal tapi punya maksud yang sama, yaitu ingin  bertemu Rasulullah dan mendengrkan ceramah beliau.

Sejak saat itu, Suhaib selalu tampil dekat Nabi Muhammad saw, terutama dalam setiap peristiwa penting. Ia tidak pernah membiarkan beliau berada dalam posisi antara dirinya dengan musuh. Begitulah kesetiaan Suhaib hingga Rasulullah wafat.

Wallahu'alam.


Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar