Jumat, 04 Januari 2013

Bilal, Pengumandang Azan Pertama

Bilal bin Rabbah berkulit hitam kelam. Tubuhnya kurus kerempeng sehingga semakin tampak jangkungnya. Rambutnya lebat, cambangnya tipis. Dia adalah seorang budak dalam keluarga Umayyah bin Khalaf, seorang bangsawan Bani Jumah. Sejak kecil, Bilal si budak Habsyi itu, ikut Hammah, ibunya, bekerja pada keluarga kaya raya di kota Makkah.

Setelah remaja, Bilal diberi tugas mengembalakan unta oleh Umayyah bin Khalaf. Sedih seklai hati Bilal berpisah dengan ibunya. Tetapi, apa mau dikata, budak adalah milik sang majikan. Untuk kerja sehari penuh, Bilal mendapat upah dua genggam kurma.

Suatu petang, Bilal mendengar perbincangan keluarga Umayyah tentang Nabi Muhammad. Bilal berhenti di balik pintu. Dia mendengarkan percakapan keluarga Umayyah itu dengan seksama.


"Tidak pernah kudengar Muhammad itu berbohong," kata Umayyah. "Pastilah dia itu bukan tukang sihir, seperti yang digunjingkan orang. Dia pun bukan orang yang berubah akal. Lebih mengherankan lagi, pengikut lelaki yang menyebut dirinya nabi itu semakin banyak, walaupun dia mengajak masuk agama baru itu secara sembunyi-sembunyi." lanjut Umayyah.

Setelah sering mendengar percakapan tentang Nabi Muhammad dalam keluarga majikannya, Bilal menyimpulkan bahwa Umayyah membenci Muhammad bin Abdullah. Kata mereka, Muhammad itu orang Bani Hasyim. Pengaruhnya sangat besar di kalangan penduduk Makkah. Hal itu pasti akan memperburuk citra Bani Jumah.

Semakin benci keluarga Umayyah pada Muhammad, semakin besar keinginan Bilal untuk bertemu dengan lelaki hebat itu. Akhirnya, Bilal menyatakan diri sebagai pengikut agama Islam yang disyiarkan Nabi Muhammad. Sejak itu pula, Bilal mengalami penyiksaan oleh Umayyah. Sebab masuknya Bilal ke agama Islam, dia dianggap sama dengan melempari muka majikan dengan kotoran yang najis.

"Siksa terus budak hitam itu!" Perintah Umayyah.

Tubuh Bilal yang kurus kerempeng dan hitam itu diseret ke dekat api yang sedang menyala. Beramai-ramai anggota keluarga Umayyah melempari tubuh Bilal dengan batu panas. Berbagai daya dan upaya dilakukan keluarga Umayyah untuk memalingkan keyakinan Islam yang telah tertanam di hati Bilal.

"Bunuh saja Bilal, budak hitam itu!" terdengar teriakan.

"Jangan!" cegah Umayyah. "Bilal tidak dapat ditundukkan dengan kekerasan. Pilihlah cara lain untuk melunakkan hatinya!"

Upaya Umayyah dan pengikutnya mengubah keyakinan Bilal sia-sia. Malahan, Bilal mengumandangkan 'Allahu Akbar' berulang-ulang saat disiksa oleh pengikut majikannya. Di puncak siksaan yang diderita Bilal, muncul juru selamat, Abu Bakar Siddiq membebaskannya dengan uang tebusan. Belum  lama Bilal dibebaskan, turun perintah Allah agar Muhammad dan pengikutnya hijrah ke kota Madinah. Bilal pun ikut hijrah.

Tiba di Madinah, Rasulullah saw dan para sahabat bermusyawarah tentang isyarat atau panggilan saat shalat. Di awal penyebaran agama Islam memang belum ada tanda-tanda semacam itu.

Seorang sahabat usul, menaikkan bendera Islam tinggi-tinggi pertanda tiba saat shalat. Usul itu ditolak sebab tidak semua orang dapat melihat bendera apalagi diwaktu malam. Bendera pun tidak mungkin membangunkan orang yang sedang tidur.

"Nyalakan api!" kata sahabat yang lain.

"Ah, tidak bisa! Api adalah sesembahan pengikut agama Majusi. Tiup terompet!" ujar sahabat yang lain lagi.

"Terompet adalah peninggalan kaum Yahudi dan Romawi," bantah sahabat yang lain.

"Dengan 'nida!" usul Abdullah bin Zaid. Maksudnya dengan seruan atau azan. Usul itu lantas diterima dengan suara bulat.

"Wahai Abdullah bin Zaid," sabda Rasulullah, "Ajarilah Bilal. Diantara kita saat ini hanya Bilal yang bersuara lantang dan merdu."

Disamping masjid yang didirikan pengikut Muhammad, terdapat sebuah rumah yang tinggi milik seorang perempuan Bani Najjar. Di rumah itulah Bilal mengumandangkan azan pertama di kota Madinah. Azan pertama itu terjadi pada tahun pertama Hijrah.

Ketika pasukan Islam berhasil membebaskan kota Makkah dari kaum Quraisy dan membersihkan berhala-berhala di Kakbah, Rasulullah meminta Bilal mengumandangkan azan di Kakbah. Kaum Muslimin yang terusir dari kota Makkah kembali ke kampung halaman dan shalat berjamaah setelah Bilal mengumandangkan azan.

Selain Bilal, Rasulullah memiliki sahabat yang biasa azan sebelum shalat berjamaah yaitu Abdullah bin Ummi Maktum. Tetapi Rasulullah lebih sering meminta Bilal untuk mengumandangkan azan bila tiba saat shalat.

Setelah Rasulullah wafat, Bilal mengelak bila diminta azan oleh para sahabat. Alasannya, "Hamba sedih saat mengumandangkan kalimat 'Asyhadu anna Muhammadarrasulullah," Bilal berkata sambil mengusap air matanya.

Di masa Umar bin Khattab, Bilal mendapat tugas negara di Syria. Saat itu, dia sudah menjadi pemimpin yang dimuliakan berkat jasa-jasanya bagi perkembangan Islam. Suatu hari Umar mengunjungi Bilal yang sudah lansia. Begitu tiba saat shalat, Umar meminta Bilal azan. Suaranya tetap lantang, jernih, dan merdu. Usai azan, Bilal menangis terisak-isak. Dia terkenang pada Rasulullah. Dia pun terkenang pada Abu Bakar Siddiq yang membebaskannya dari siksaan Umayyah. Umar dan sahabat yang lain pun ikut menangis. Ternyata, tangis Khalifah Umar lebih keras daripada yang lain.

Hingga usia tua, Bilal dan pasukan Islam dipercaya menjaga perbatasan wilayah kekuasaan Islam di Syria. Bilal menutup mata pada tahun 641 Masehi. Di kota Damaskus terbaring sosok Bilal, seorang pejuang Islam yang selalu dikenang.

Dari berbagai sumber.
Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar