Kamis, 05 April 2012

Peran Suami Dalam Membentuk Keluarga Sakinah

Selain peran seorang isteri dalam rumah tangga, peran suami untuk menjadi suami yang baik serta menjadi teladan bagi isteri dan anaknya, tidak semudah membalik telapak tangan. Sejumlah permasalahan, baik kecil maupun besar, akan dihadapi. Kendati demikian, bukanlah mustahil untuk mewujudkan kebahagian itu. Syaratnya, suami mesti memahami posisi dirinya sebagai kepala rumah tangga serta tanggung jawabnya.

Beberapa pilar penting yang dapat menyangga bangunan kebahagiaan hidup rumah tangga, yang bisa dilakukan seorang suami diantaranya:


1. Memberikan Sambutan Hangat. Langkah awal untuk menciptakan kebahagian keluarga adalah sikap manis yang ditunjukkan seorang suami tatkala pulang ke rumah, baik dari tempat kerja maupun dari bepergian karena kepentingan lain. Rasulullah saw telah memberi petunjuk kepada suami tentang bagaimana etika menemui isterinya, yaitu: a). Mengucapkan salam, b). Menunujukkan wajah yang berseri, c). jabat tangan, karena bisa mengokohkan ikatan perasaan serta jalinan cinta.

2. Berbicara dan Memanggil yang Menyenangkan. Dalam bertutur, seorang suami seharusnya memilih kata-kata yang baik dan ungkapan menarik. Seperti sabda Rasulullah saw, "Kata-kata baik itu sedekah." (Muttafaq'alaih). Tidak terpuji, bila suami berbicara dengan isterinya, atau dengan orang lain, menunjukkan sikap tak peduli, congkak, sombong, sebagaimana layaknya seorang majikan berbicara kepada hamba sahayanya di jaman Jahiliyah dahulu.

Demikian pula ketika memanggil, sebaiknya dengan panggilan kesukaan karena hal itu merupakan ungkapan kasih sayang dan penguat jalinan cinta, bahkan kalau perlu dengan ungkapan manja, sebagaiman perilaku Rasulullah saw memanggil Aisyah dengan suara lembut untuk memanjakannya. Dalam Al-Quran, Allah swt mencegah orang beriman memanggil sesamanya dengan nama-nama buruk dan julukan-julukan yang melukai perasaan.

3. Membantu Pekerjaan. Suatu sikap mulia, jika suami mampu menciptakan perasaan senang hati isterinya dengan membantu melaksanakan tugas-tugasnya. Betapa indahnya, jika suami mau membantu mengerjakan tugas-tugas keseharian isterinya dengan penuh tulus ikhlas.

4. Bermusyawarah dan Saling Mengingatkan. Seorang suami seyogyanya menjaga prinsip musyawarah, yang akan menciptakan ketenangan hati isteri, disamping ia merasa dihargai, terutama menyangkut urusan yang dipahami dan menjadi tanggung jawab isteri, seperti pengaturan anggaran belanja, pendidikan anak, tata ruang rumah, serta urusan eksternal keluarga.

Islam menganjurkan kepada pasangan suami isteri untuk saling mengingatkan jika salah satu pihak bersalah. Dengan cara itu, letupan-letupan kecil bisa didinginkan sesegera mungkin. Rasulullah saw ketika berada di rumah, membagi waktunya menjadi tiga bagian: sebagian untuk ibadah, untuk keluarga, dan sebagian lagi untuk umat. Bagian keluarga itu ia manfaatkan untuk memberi pengajaran kepada isteri-isterinya.

5. Mencukupi Nafkah. Nafkaah adalah tanggung jawab utama seorang suami (baik nafkah lahir maupun batin). Nafkah lahir adalah segala kebutuhan rumah tangga dan isterinya baik yang menyangkut sandang, pangan, dan papan. Nafkah apabila diberikan kepada isteri dengan lapang dada, tanpa sedikit pun unsur kikir, merupakan kontribusi utama yang dapat mendatangkan keseimbangan dan kebahagian rumah tangga.

Sementara nafkah batin adalah kebutuhan biologis demi memupuk rasa cinta dan bahagia dalam keluarga. Dalam konteks ini, jumhur ulama berpendapat bahwa jima' bagi suami, apabila tidak ada halangan, hukumnya wajib. Sebab ia merupakan manifestasi dari rasa kasih sayang di antara keduanya.

6. Berdanadan. Berdandannya suami untuk isterinya akan menambah rasa cinta, sehingga menjadikannya betah untuk selalu memandang dan berada di sampingnya. Islam mengimbau kepada kaum muslimin untuk selalu dalam keadaan rapi, bersih, indah, serta berbau harum. Itu semua termasuk tradisi fitrah dan petunjuk Rasul.

7. Mengobati Hati. Seorang suami hendaklah memiliki hati lembut dan perasaan peka, serta dapat memahami perasaan isteri, lalu berusaha meringankan perasaan isteri tanpaa diminta.

8. Menjaga Rahasia. Seorang suami harus pandai menyimpan rahasia rumah tangga termasuk urusan jima'. Menceritakan tentang keburukan rumah tangga kepada orang lain sama artinya menurunkan kehormatan diri mereka. Jika terjadi persoalan dalam rumah tangga yang melahirkan celaan, umpatan, bahkan perilaku buruk lain yang tak terkendali, semua itu addalah rahasia rumah tangga yang harus dijaga. 

9. Bersikap Santun dan Sabar. Sabar merupakan kunci yang dapat menyejukkan suasana dalam kehidupan rumah tangga. Seorang suami harus tetap bersabar dan tahan diri menghadapi terhadap berbagai goncangan yang terjadi dalam rumah tangga, jangan terpancing emosi dan terburu-buru memvonis.

10. Memaafkan dan Menegur. Sifat ini harus dimiliki suami yang shaleh dan menjadi hiasan bagi dirinya dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Suami mesti mempunyai perangai suka memaafkan. Dengan demikian ia dapat menjalankan roda kehidupan rumah tangga secara baik.

Watak pemaaf adalah salah satu dari perangai Rasulullah saw yang telah diwujudkan dalam kehidupan rumah tangganya beserta para isterinya. Riwayat-riwayat yang menceritakan bagaimana beliau menghadapi sikap Aisyah karena dikuasai emosi dan rasa cemburu, merupakan bukti kongkrit keteladanannya selain merupakan mutiara agung yang mesti kita pungut.

Sumber: Herry Munhanif, Majalah Hidayah, Tahun 4 Edisi 43
Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar