Senin, 16 April 2012

Burung yang Mematuk Air

"Siapakah orang yang paling banyak ilmunya?" tanya seorang dari Bani Israil kepada Nabi mereka, Musa as. "Aku orang yang paling banyak ilmunya," jawab Nabi Musa.

Inilah jawaban yang kemudian mengawali sebuah kisah. Kisah yang akrab dengan kita, termaktub dalam al-Qur'an (surat al-Kahfi) dan tercatat dalam sahih Bukhari dan Muslim; kisah pertemuan Nabi Musa as dan Nabi Khidir as.

Kita tahu, Allah tak senang dengan jawaban itu dan menyampaikan firman bahwa ada orang yang lebih banyak ilmunya dibanding rasul-Nya yang hidup di masa Firaun itu. Dialah Khidir yang bertempat di pertemuan dua lautan. Kita tahu, setelah bertemu, Nabi Musa mengajukan permintaan agar Khidir mengajarkan ilmu-ilmu yang tak diketahuinya.

Khidir memperingatkan Musa as bahwa ia tak akan bersabar mengikutinya. Peingatan itu terbukti; tiga kali Nabi Musa memprotes melihat tiga perbuatan Khidir, melubangi perahu, membunuh anak kecil, dan mendirikan dinding yang hampir roboh di daerah satu kaum yang tak menghormati tamu.

Demikianlah cara Allah memperingatkan rasul-Nya yang sedikit terlupa bahwa semua ilmu pemberian-Nya. Tak terbersit di pikiran Nabi Musa bahwa Khidir melubangi perahu agar perahu itu tampak cacat hingga perampok tak berselera merampasnya. Khidir membunuh si anak karena si anak kelak membahayakan orang tuanya dengan kekufurannya. Tak terbersit pula mendirikan dinding berarti menjaga masa depan seorang anak yatim karena di bawah dinding itulah tersimpan harta orang tuanya yang saleh.

Itulah ilmu Khidir yang tak diketahui Nabi Musa. Khidir sendiri sebelumnya berujar, "Kau (Musa) mendapatkan sebagian ilmu dari Allah yang tak aku ketahui, dan aku mendapat sebagian ilmu dari Allah yang tak kau ketahui." Artinya, satu sama lain terbatas ilmunya berdasar apa yang telah diajarkan Allah kepadanya.

Ketika menceritakan kisah ini dihadapan sahabat, Nabi Muhammad saw berandai Nabi Musa bisa bersabar hingga kisah ini lebih panjang dikisahkan untuk diambil pelajaran. Beliau mengaku sangat senang dengan kisah ini dan mengirimkan doa kepada Nabi Musa as agar dia dirahmati-Nya. Pastilah menyenangkan jika ada peristiwa-peristiwa lain yang terjadi dalam perjalanan dua makhluk mulia itu hingga kita dapat melihat bagaimana Khidir as dengan ilmunya, mengatasinya.

Tapi, barangkali bukan Nabi Musa dan Khidir yang menjadi inti kisah ini, melainkan seekor burung kecil bernama Ushfur. Setelah nabi Musa dan Khidir resmi berpisah, burung itu datang dan  hingga di tepi perahu. Paruhnya yang kecil, lalu condong ke bawah, mematuk air lautan. Paruh yang tadi kering menjadi basah oleh percik air.

Itulah potret bagi ilmu Musa, ilmu Khidir, dan ilmu semua manusia lain jika dibanding ilmu Allah yang seperti lautan. Begitu sedikit, remeh dan sia-sia. Yang kadang menjadi sebab keingkaran kita pada-Nya. Waallahua'lam.

Sumber: Aditia, Majalah Sabili, Tahun 6 Edisi 67.
Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar