Tampilkan postingan dengan label Oase Tabi'in. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Tabi'in. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Januari 2013

Syuraih al-Qadhi, Hakim Adil dan Bijaksana

Alkisah, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra membeli seekor kuda pada seorang Arab Badui. Setelah menyerahkan harganya, ia menaiki kuda itu. Namun, seperti disebutkan dalam Shuwar min Hayati Tabi'in karya Dr. Abdurrahman Rafa'at Basya, setelah Umar pergi agak jauh, ia mendapati cacat berupa memar pada kuda itu. Umar memperlambat laju kudanya dan memutuskan untuk mengembalikan kuda itu. 

"Ambil kembali kudamu. Hewan ini cacat," ujar Umar saat sampai di tempat si badui.

"Tidak, Amirul Mukminin. Aku telah menjualnya padamu tanpa cacat dan semua syarat sudah sah," jawab orang itu.

"Kita serahkan urusan ini pada hakim," putus Umar.
Share

Minggu, 27 Januari 2013

Uwais al-Qarni, Seorang Penghuni Langit

Uwais al-Qarni seorang pemuda sederhana yang hidup di zaman Rasulullah saw. Dia mempunyai mata biru, berperawakan tegap, dan kulit kemerah-merahan. Di tangannya ada tanda bercak keputihan akibat penyakit kulit yang pernah dideritanya. Ia berasal dari Yaman. Nama lengkapnya Uwais bin Amir Abu Amr al-Qarni al-Muradi al-Yamani.

Uwais sosok pemuda yang sangat sederhana. Karena kesederhanaannya, ia hanya punya dua helai pakaian yang sudah kusut. Satu digunakan sebagai penutup tubuhnya, sementara yang satu lagi ia gunakan sebagai selendang.

Sekali waktu Uwais tak hadir di majelis tempat ia biasa memberikan ceramah dan nasehat. Salah seorang temannya, Asir bin Jabir mendatangi rumahnya untuk mencari tahu. Sesampainya disana, ditanyalah Uwais, "Wahai saudaraku, mengapa engkau tak datang ke majelis hari ini?"
Share

Kamis, 24 Januari 2013

Abdullah bin Katsir, Pemimpin Ahli Qira'at

Dia dilahirkan di Makkah pada tahun 45 H. Dalam perjalanan hidupnya dia pernah menjadi seorang budak pada Amr bin Alqamah al-Kinani sebagai keturunan Persia yang dikirimkan menuju Yaman melalui laut ketika penguasa Habasyah mengusirnya. Abdullah bin Katsir mempelajari ilmu qira'at kepada Mujahid bin Jabar yang berguru kepada Ibnu Abbas. Sedangkan Ibnu Abbas sendiri berguru kepada Ubay bin Ka'ab.

Abdullah bin Katsir senantiasa menjaga penampilan dan kebersihan diri. Diantara kebiasaannya, beliau selalu memakai wewangian dalam berbagai kesempatan. Ia merupakan syaikh, qadhi (hakim) dan imam qira'at di Makkah. Ulama qira'at yang termasuk pada generasi tabiin ini memiliki nama belakang 'ad-Dari'. Nama tersebut berhubungan dengan nama seorang sahabat bernama Tamim ad-Dari dan juga berhubungan dengan minyak wangi. Diriwayatkan, Ibnu Katsir merupakan sosok yang selalu taat kepada guru dan tak pernah menyelisihi ilmunya. Dengan demikian, ia tak pernah berbeda pendapat dengan Mujahid bin Jabar mengenai ilmu qira'at.

Abdullah bin  Katsir menyatakan, Mujahid merupakan guru yang bijak dan cermat dalam memandang setiap perdebatan yang terjadi diantara para ahli qira'at. Bagi Mujahid, Abdullah bin Katsir merupakan muridnya yang utama. Betapa tidak, suatu saat Mujahid pernah mengatakan, "Penduduk Makkah terkadang tidak sepakat dengan metode bacaan Ibnu Muhaisin, namun mereka sepakat dengan metode bacaan Abdullah bin Katsir."

Meski hanya seorang budak, Abdullah bin Katsir merupakan tabi'in yang memiliki kualifikasi keilmuan cukup mumpuni. Tak pelak lagi, dengan keilmuannya yang bermanfaat bagi bangsa Arab dan umat Islam keseluruhan, Abdullah bin Katsir adalah ulama besar dalam bidang bacaan al-Qura'an.

Terbukti, banyak ulama-ulama terkenal lainnya yang belajar ilmu qira'at kepada Abdullah bin Katsir. Sebut saja, Abu Amr al-A'la, al-Khalil bin Ahmad, Imam Syafii dan yang lainnya. Ditambah lagi, beliau bertemu dengan generasi sahabat seperti Abdullah bin az-Zubair, Abu Ayyub al-Anshari, Anas bin Malik, dan sebagainya.

Bahkan Abu Amr bin al-A'la, tabi'in lainnya yang juga pakar dalam qira'at dan pernah belajar membaca al-Qur'an kepada Abdullah bin Katsir, menjadikan Ibnu Katsir sebagai guru utamanya. Abu Amr bin al-A'la mengakui Ibnu Katsir sebagai guru para qari (pembaca al-Qur'an) di Makkah dan menjadikannya sebagai hakim para tabi'in.

Abu Amr bin al-A'la menyatakan, ditengah banyaknya sosok yang mumpuni dalam bidang qira'at, Abdullah bin Katsir sanggup tampil sebagai pemimpin para qari di Makkah. Ini mengingat, beliau hidup semasa dengan banyak tokoh yang mengkonsentrasikan diri pada ilmu qira'at. Hampir seluruh tokoh tersebut mempelajari dan memperbaiki bacaan al-Qur'an disetiap waktu.

Diantara nama-nama tokoh itu adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Muhaishin as-Sahmi, salah seorang dari empat belas pakar qira'at Makkah. Tokoh yang wafat pada 123 H ini merupakan sahabat dekat Abdullah bin Katsir.

Abdullah bin Katsir mengembangkan beberapa prinsip yang dijalankan dalam membaca al-Qur'an yang sejalan dengan sunnah Rasulullah saw. Diantaranya, pertama, beliau selalu membaca basmallah dalam setiap awal surat, kecuali surat Al-Anfal dan surat at-Taubah. Keharusan ini juga dilakukan Qalun, seorang  qari dan pakar ilmu Nahwu dari Madinah yang merupakan salah seorang dari tujuh ulama qira'at terkenal.

Kedua, membaca mad munfashil dengan pendek dan mad muttashil dengan kecepatan sedang. Hal ini disepakati ulama tanpa ada perbedaan. Ketiga, membaca ringan hamzah (tanda baca) yang bertemu dalam satu kata tanpa memasukkan alif diantara keduanya.

Untuk menggambarkan keutamaan Ibnu Katsir, sangat tepat penjelasan Sufyan bin Uyainah bahwa di Makkah tidak ada yang lebih bagus bacaan al-Qura'an melebihi dia. Jarir bin Hazim berkata tentang Ibnu Katsir, "Dia adalah orang yang fasih membaca al-Qur'an."

Pada perkembangan selanjutnya, buah dari keilmuan tinggi dan pengakuan banyak orang, tak sedikit yang berguru pada Abdullah bin Katsir. Tak heran jika di kemudian hari, madrasah dan metode qira'atnya berhasil  melahirkan dua muridnya yang terkenal, al-Bazzi dan Qunbul. Al-Bazzi lahir pada 170 H, yaitu 50 tahun setelah wafatnya Abdullah bin Katsir di Makkah pada tahun 120 H.

Disadur dari karangan Jamilatun Heni Marfu'ah, dalam Majalah Sabili, Edisi 23 Th. XV, 29 Mei 2008


Share

Jumat, 18 Januari 2013

Abu 'Amr bin al-'Ala, Panglima Bahasa Arab

Nama lengkap tabi'in ini adalah Zabban bin al-'Ala bin 'Ammar bin Abdullah bin al-Husain bin al-Harits bin Jalhamah. Dia berasal dari kabilah Bani Tamim yang tergabung dalam keluarga besar Mazini dan tingal di Basrah. Tabi'in yang termasuk sebagai salah satu qari yang tujuh ini lahir di Mekkah pada tahun 70 H.

Abu 'Amr sangat menguasai ilmu nahwu, bahasa Arab dan ilmu qira'at. Dia mempelajari bacaan al-Qur'an kepada Mujahid dan Said bin Jubair yang menurutnya - kedua orang tersebut - mempunyai keistimewaan tersendiri. Ikrimah dan Ibnu Katsir disebutkan juga pernah menjadi guru bagi Abu 'Amr. Prinsip Abu 'Amr dalam mencari ilmu dijelaskan Ibnu Mujahid, mengutip perkataan Abu Bakar, yaitu, "Selain menguasai bahasa Arab, Abu 'Amr selalu konsisten dengan riwayat-riwayat keilmuan yang dicetuskan para ulama pendahulunya."
Share

Rabu, 16 Januari 2013

Najasyi Ashhamah bin Abjar, Muslim Pertama Habasyah

Ia dikenal dengan nama Najasyi. Nama aslinya Ashhamah bin Abjar. Ia adalah putera tunggal Raja Habasyah, negeri yang saat ini masuk wilayah Afrika.

Konon saat itu raja yang hanya memiliki satu anak dipandang kurang baik. Maka melalui sebuah muslihat para pembesar negeri, ayah Ashhamah dibunuh. Ia digantikan saudaranya yang memiliki banyak anak. Ashhamah kecil diasuh pamannya yang menjadi raja menggantikan ayahnya itu, sampai ia tumbuh dewasa menjadi pemuda cerdas, memiliki semangat tinggi, ahli beragumentasi dan memiliki kepribadian luhur.

Tak puas membunuh ayah Ashhamah, para pembesar negeri itu mengusulkan pada raja untuk membunuh anaknya juga. Namun usul ini ditolak. Tapi dengan pengaruhnya yang besar, mereka berhasil mengasingkan Ashhamah.
Share

Rabu, 26 Desember 2012

Ibrahim Bin An-Nakha'i, Referensi Kajian Hadis Tabi'in

Tabi'in bernama lengkap Abu 'Ammar Ibrahim bin Yazid bin al-Aswad bin Amr bin Rabiah bin Haritsah bin Sa'ad bin Malik bin an-Nakha'i ini adalah tabi'in yang piawai dalam kajian hadis. Beliau digambarkan sebagai ulama sepandai gurunya, Ibnu Mas'ud. Kontribusinya dalam periwayatan hadis cukup banyak, melebihi ulama tabi'in lainnya semisal 'Alqamah, al-Aswad, Masruq, dan yang lainnya. Kecerdasannya begitu mumpuni, dan budi pekertinya sangat santun.

Ulama Kufah ini bertemu dengan sejumlah sahabat Rasulullah semisal Abu Sa'id al-Khudri dan Ummul Mukminin Aisyah ra. Bahkan dalam sebuah riwayat, Ibrahim menjadi referensi kajian hadis di kalangan tabi'in.

Ismail bin Abi Khalid berkata, "Suatu ketika asy-Sya'bi, Ibrahim an-Nakha'i, dan Abu adh-Dhuha berkumpul di sebuah masjid untuk mengkaji hadis. Jika mereka mendapatkan hal-hal yang tidak diketahui, maka mereka mengarahkan pandangan ke Ibrhim an-Nakha'i."
Share

Selasa, 25 Desember 2012

Muththarif Bin Abdullah Bin Asy-Syikhkhir, Ahli Hikmah dan Doa

Seorang 'abid (ahli ibadah) dan ahli syukur, Muththarif bin Abdullah bin asy-Syikhkhir. Kepada dirinya ia menghina, kepada Allah ia mengagungkan. Abu Nu'aim dalam kitabnya, al-Huliyah, menyebutkan bahwa tokoh tabiin ini dilahirkan di masa Nabi saw, tapi tak sempat bersua dengannya. Namun Muththarif merasa beruntung terlahir di zaman yang baik. Maka ia pun giat menimba ilmu, memburu hikmah, hingga berhasil menjadi imam bagi kaum Muslimin, menjadi seorang yang alim tentang agamanya, seorang ahli ibadah dari Bashrah yang berhias zuhud.

Seorang ulama yang bernama al-'Ajali menyematkan sifat padanya sebagai seorang tsiqah dari kalangan tabiin. Sedang Ibnu Hibban dalam kitabnya, at-Tsiqat, menyebutnya sebagai seorang laki-laki yang shalih.
Share