Tampilkan postingan dengan label Oase Abu Nawas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Abu Nawas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 April 2013

Lomba Mimpi di Bulan Puasa


Pada siang di bulan puasa, Abu Nawas didatangi oleh dua orang temannya yang tidak berpuasa. Mereka bersekongkol untuk mengganggu Abu Nawas. Tibalah mereka di depan pintu rumah Abu Nawas. Setelah mengucapkan salam, tanpa basa basi lagi mereka mengajak Abu Nawas ngabuburit.

Sampailah mereka di warung nasi, dan teman-temannya membeli nasi untuk dibungkus. Abu Nawas mengira kalau teman-temannya sangat menghormati orang yang berpuasa meski mereka tidak puasa karena temannya tidak makan di warung tersebut, namun dibawa pulang.

Setelah itu, mereka pergi meninggalkan warung tersebut dan sampailah di rumah salah satu temannya. Begitu waktu berbuka puasa sampai, Abu Nawas berkata, "Wah, sudah waktunya berbuka."
Share

Sabtu, 13 April 2013

Baginda Raja Hampir Terbunuh


Pada suatu hari, Abu Nawas berjalan-jalan hingga ke kampung Badui di daerah gurun yang jauh dari kota tempat tinggalnya. Sesampainya di tempat tersebut, ditemuinya ada beberapa orang yang sedang memasak bubur, suasananya ramai sekali. Tanpa disadarinya, ia ditangkap oleh orang-orang itu dan dibawa ke rumah mereka untuk disembelih.

"Kenapa aku ditangkap?" tanya Abu Nawas.

"Wahai orang asing, setiap orang yang lewat di sini pasti akan kami tangkap, kami sembelih seperti kambing dan dimasukkan ke belanga bersama adonon tepung itu. Inilah pekerjaan kami dan itulah makanan kami sehari-hari," jawab salah seorang dari mereka sambil menunjuk ke belanga yang airnya sedang mendidih.
Share

Jumat, 11 Januari 2013

Mendemo Hakim yang Zalim

Sore itu, Abu Nawas sedang mengajar di salah satu majlis taklim dekat rumahnya. Ada dua orang tamu datang ke rumahnya, yaitu seorang wanita penjual kopi dan seorang pemuda berkebangsaan Mesir.

Wanita tua itu mengadukan beberapa persoalan, kemudian diteruskan oleh si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya untuk menutup kitab mereka.

"Sekarang pulanglah kalian! Ajak teman-teman kalian untuk berkumpul pada malam hari sambil membawa cangkul, penggali, kapak, martil, dan batu!" perintah Abu Nawas.

Pada malam harinya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta manusia cerdik itu.
Share

Selasa, 28 Agustus 2012

Abu Nawas Melarang Rukuk dan Sujud Dalam Shalat

Syahdan, Khalifah Harun Al-Rasyid marah besar pada sahabatnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa bahwa tidak perlu rukuk dan sujud dalam shalat. Lebih lagi Harun Al-Rasyid mendengar Abu Nawas mengatakan bahwa dirinya Khalifah yang suka fitnah. Menurut para pembantunya, Abu Nawas layak dipancung karena melanggar syariat Islam dan menyebar fitnah.

Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran untuk melakukan tabayun (konfirmasi). Abu Nawas pun dibawa menghadap sang Khalifah.
Share

Selasa, 27 Maret 2012

Pintu Akhirat


Tidak seperti biasa, hari ini Sultan Harun Al-Rasyid tiba-tiba menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupaan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun  agar lebih leluasa bergerak. Baginda mulai keluar ke istana dengan memakai pakaian yang amat sederhana layaknya seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan, beliau melihat beberapa orang tengah berkumpul.

Setelah baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang memberikan materi pengajian tentang alam barzakh. Tiba-tiba ada seorang yang datang dan bergabung dalam majelis itu, tak lama kemudian orang itu bertanya kepada sang ulama. "Wahai ustadz, pada suatu waktu kami mengintip kubur orang kafir, tetapi kami tidak mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang mereka alami. Maka bagaimana caranya membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dilihat dengan mata zhahir?"
Share

Enam Ekor Lembu yang Pandai Bicara


Pada suatu hari, Sultan Harun Al-Rasyid memanggil Abu Nawas menghadap ke istana. Kali ini, Sultan ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Sesampainya di hadapan Sultan, Abu Nawas pun menyembah. Dan, Sultan pun bertitah, "Hai, Abu Nawas, aku menginginkan enam ekor lembu berjanggut yang pandai bicara. Bisakah engkau mendatangkan mereka dalam waktu seminggu? Kalau gagal, akan aku penggal lehermu."

"Baiklah, tuanku, hamba junjung titah tuanku."

Semua punggawa istana yang hadir di istana itu pun berkata dalam hati, "Mampuslah kau, Abu Nawas!"
Share

Selasa, 20 Maret 2012

Obat Mujarab


Pangeran kerajaan merupakan buah hati belahan jantung bagi seorang raja, karena masa depan kerajaan berada di tangannya. Begitu juga Baginda Harun Al-Rasyid yang begitu menyayangi sang Pangeran melebihi kecintaannya terhadap harta kerajaan.

Secara tak terduga pangeran yang menjadi putra mahkota, terserang penyakit aneh. Sudah banyak tabib yang didatangkan untuk memeriksa dan mengobati penyakit tersebut, tapi tak seorang pun yang mampu menyembuhkannya. Hal ini membuat Raja Harun Al-Rasyid berinisiatif untuk mengadakan sayembara yang boleh diikuti oleh rakyat dari semua lapisan, termasuk para penduduk negeri tetangga. Sayembara ini memperebutkan hadiah yang sangat menarik dan menggiurkan.
Share

Botol Ajaib


Kecerdikan Abu Nawas dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi di Baghdad dan sekitarnya membuat Baginda Harun Al-Rasyid sangat penasaran untuk mencari titik lemahnya, sehingga tak henti-hentinya Baginda menguji Abu Nawas. Suatu hari Baginda memanggil Abu Nawas untuk datang ke istana karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Maka datanglah Abu nawas ke istana dengan hati bertanya-tanya, "Ada apa lagi Baginda memanggilku?"

Setelah tida di depan pendopo istana, dengan senyum lebar Baginda Harun Al-Rasyid menyambut Abu Nawas dan mempersilakanyya duduk. "Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib istana aku terkena cika (masuk angin)," Baginda mulai membuka pembicaraan.
Share

Minggu, 18 Maret 2012

Tugas yang Mustahil


Suatu saat Baginda Harun Al-Rasyid berangan-angan untuk memiliki istana di atas awan. Satu-satunya orang yang bisa diajak bicara tentang angan-angan tersebut adalah Abu Nawas. Maka ia pun segera memerintahkan pengawalnya untuk menganggil Abu Nawas.

Tanpa bertanya-tanya lagi, Abu Nawas bergegas ke kediaman sang Baginda. Wajah Baginda Harun Al-Rasyid langsung berseri-seri tatkala melihat kedatangan Abu Nawas yang sedang dinanti-nantikannya.
Share

Penyakit dan Takdir Tuhan


Suatu kali, Abu Nawas pernah didatangi oleh seorang perempuan dalam kondisi menangis tersedu-sedu lantaran suaminya sakit batuk yang tidak sembuh-sembuh.

"Saya sudah mendatangi semua tabib dan dukun yang tersohor untuk mencarikan obat buat suami saya. Tetapi tidak ada yang berhasil. Tolonglah Tuan, bagaimana caranya agar batuk suami saya bisa reda," ujar perempuan itu.
Share

Jumat, 16 Maret 2012

Pakaian Abu Nawas

Abu Nuwas Clothing.

Abu Nawas berpenampilan seperti orang biasa ketika bertandang ke pesta seorang bangsawan. Karena Abu Nawas tidak memakai pakaian layaknya tamu yang sedang mengikuti pesta, tak seorangpun tuan rumah yang melayaninya. Bahkan, Abu Nawas diusir karena dianggap merusak acara.

Bukan Abu Nawas jika tidak panjang akal. Ia pun pulang ke rumah mengganti pakaian, lalu kembali ke pesta. Bajunya indah layaknya seorang bangsawan. Sesampainya di pesta, dua pelayan menyambutnya dan menghidangkannya makanan dan minuman yang lezat.
Share