Tampilkan postingan dengan label Oase Pengalaman Sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Pengalaman Sejati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Akibat Ucapan yang Salah di Makkah

"Acara ziarah ke Jabal Rahmah pada hari Ahad pukul tujuh pagi. Para jemaah haji harap berkumpul di depan Masjidil Haram!" Pengumuman itu diudarakan melalui pengeras suara oleh seorang ketua kelompok terbang. Haji Badruddin melirik Hajah Saodah. Wanita muda itu masih asyik berbincang dengan Hajah Siti Maryam dan Hajah Juwairiah. Sementara Haji Aris dan Haji Sutikno mengutak-atik kamera saku dekat pintu.

"Dengar pengumuman itu?" kata Haji Sutikno, mengingatkan seisi kamarnya seusai sarapan pagi itu.

"Ya, dengar," sahut Hajah Siti Maryam, isteri Haji Sutikno.

"Biar enak naik bukit pakai celana panjang saja," kata Hajah Juwairiah, isteri Haji Aris. "Karena udara panas, jangan lupa bawa payung," tambahnya.
Share

Jumat, 21 Desember 2012

Ada Hak Bagi Orang Lain

Saya adalah seorang sopir angkutan umum. Akibat semakin banyak saingan, penumpang pun menjadi sepi. Kadang-kadang, untuk mendapat uang setoran pun harus tombok alias tekor. Hal ini sempat membuat saya su'udzun (berburuk sangka) kepada Allah, mengapa rezeki saya sangat seret. Astaghfirullah al'adzim. 

Di suatu hari, saya melihat seorang nenek tua, kira-kira berumur 80-an tahun, dalam keadaan yang sangat lemah, berjalan pun sambil terhuyung,  bajunya lusuh. Di benak saya timbul rasa iba. Orang setua itu mengapa tidak ada yang merawatnya. Hal ini menggerakkan hati saya untuk menolongnya. Tetapi, saya sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Kucoba merogoh saku celana, di dalamnya hanya ada beberapa lembar uang yang belum cukup untuk setoran. Karena sangat ingin menolong, kuambil selembar uang ribuan dan kuberikan kepada nenek tua itu. Sambil gemetar, diterimalah uang tersebut dan nenek itu pun bergumam entah apa, saya tidak tahu karena saya langsung bergegas pergi.
Share

Senin, 13 Agustus 2012

Badan Melepuh Setelah Meremehkan Nasehat Yang Baik

Zaman memang berubah, bukan hanya di kota-kota besar saja kita jumpai kemaksiatan, bahkan di desa-desa pun sudah merajalela dan seolah-olah menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi para pelakunya. Contohnya, sebut saja namanya dengan Kardi yang sudah terjerumus dalam kemaksiatan dan kesenangan dunia fana. Kerjanya setiap hari hanya mabuk-mabukan, berjudi, dan mengundi nasib. Kardi memang sudah benar-benar lalai dengan segala kewajibannya sebagai manuia. Jangankan membaca Al-Quran, shalat pun sudah mulai ia tinggalkan. Dia memang lebih mementingkan hawa nafsunya dan bujuk rayu setan yang menyesatkan.
Share

Selasa, 17 Juli 2012

Akibat Benci dan Berbohong Pada Pengemis

Aku adalah orang yang mempunyai prinsip bahwa sesuatu hal dapat dicapai dengan kerja keras. Prinsip inilah yang menjadikan aku menjadi orang yang agak pelit untuk bersedekah. Setiap aku bertemu pengamen dan pengemis di jalan, aku paling benci dan terkadang memalingkan muka. Apalagi melihat si pengamen atau pengemis yang masih muda dan berbadan sehat. Aku paling benci. Dalam hatiku berkata, "Orang masih muda dan berbadan sehat kok mengamen, apakah ta punya pekerjaan lain selain pekerjaan yang hina seperti ini?"
Share

Jumat, 06 Juli 2012

Akibat Membakar Al-Qur'an

Pak Sastro mempunyai seorang isteri dan enam orang anak. Tiga orang anak perempuan yang tertua sudah menikah, sekarang tinggal tiga orang anaknya yang kecil masih bersamanya. Sebagai seorang muslim, Pak Sastro sebenarnya orang yang sangat taat beribadah. Ia pernah berniat menjual  sebagian sawahnya untuk ongkos menunaikan ibadah haji. Sayangnya rencana itu tidak terlaksana. Yang lebih ironis lagi, Pak Sastro justru kemudian berniat pindah ke agama lain (murtad).

Karena keinginannya yang sudah kuat untuk berpindah ke agama lain, suatu malam Pak Sastro nekad dan berani membakar semua kitab suci al-Qur'an dan buku-buku Islam. Saat itu hujan cukup deras dibarengi dengan petir dahsat.
Share

Rabu, 06 Juni 2012

Bersumpah dengan Menginjak Al-Quran

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2001. Aku mempunyai saudara sepupu, sebut saja namanya Udin (nama samaran). Dia terkenal sangat nakal, setiap hari ada saja ulahnya yang bikin kesal orang sekampung. Sehari-hari kerjanya hanya keluyuran kesana-kemari. Namun, sesekali si Udin disuruh orang tuanya pergi ke ladang mengambil rumput untuk makanan kambing kepunyaan orang tuanya.

Suatu ketika ada seorang pemilik kebun ubi jalar, sebut saja pak Sani (nama samaran). Pak Sani menyaksikan bahwa daun ubi jalar kepunyaannya telah diambil orang, padahal umbinya belum siap untuk dipanen. Otomatis hal itu bisa merusak hasil tanaman ubi pak Sani. Pak Sani sempat marah-marah, dan si Udin pun menjadi tersangka. Memang, daun ubi jalar ini layak juga untuk makanan kambing. Jadi wajarlah kalau si Udin menjadi tersangka dan dituduh mengambilnya, apalagi tempat mengambil rumput yang biasa Udin lakukan berdekatan dengan kebun jeruk pak Sani.
Share

Memaki Ibu

Kisah ini terjadi sewaktu aku masih di kelas 6 Sekolah Dasar. Suatu hari, kulihat ibu sedang bekerja. Lalu aku mendekatinya dan bertanya dengan perkataan yang agak keras, "Hari ini kita masak masakan apa sih bu?"

Lalu ibu menjawab, "Hari ini nak kita masak ikan asin dan sayur kangkung," jawab ibu dengan nada yang lemah lembut.

Setelah itu aku marah-marah dan berkata, "Sayur kangkung melulu sih, aku kan enggak suka, aku enggak makan kalau lauknya itu." Lalu aku berkata pada adikku yang paling kecil, "Tolong belikan kakak telor sama mie goreng, kakak mau makan nih!" dengan nada tinggi, lalu aku lanjutkan, "Kalau enggak aku akan memukulmu sampai nangis!"
Share