Sabtu, 13 April 2013

Kisah Abu Yazid Al-Busthomi Dengan Seekor Anjing Hitam


Syahdan, pada zaman dahulu, ada seorang kiyai besar yang sangat dihormati. Orang-orang di sekitar memanggilnya Kiyai Yazid atau lengkapnya Kiyai Yazid al-Busthomi. Murid-muridnya banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, ada yang berasal dari Irak, Iran, Arab, Gujarat, negeri Pasai, dan sebagainya. Mereka setia dan patuh atas semua nasehat dan bimbingan sang murshid.

Karena kealimannya, banyak pula masyarakat yang menginginkan nasihat dari beliau. Mereka pun datang dari berbagai penjuru dunia, baik laki-laki maupun perempuan. Ada yang menanyakan tentang perjalanan spiritual yang sedang dihayatinya, ada pula yang bertanya cara menghilangkan penyakit-penyakit hati, bahkan tak jarang yang menginginkan usaha mereka lancar serta keperluan-keperluan yang sifatnya pragmatis, serta mengajak berdiskusi membahas soal-soal yang pelik. Semuanya dilayani dan diterima dengan baik oleh sang Kiyai.

Pada suatu hari, Kiyai Yazid sedang menyusuri sebuah jalan. Ia sendirian. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya. Tak tahu ke mana arah tujuan dengan pasti. Tiba-tiba dari arah depan ada seekor anjing hitam berlari-lari. Kiai Yazid merasa tenang-tenang saja, tak terpikirkan bahwa anjing itu akan mendekatinya. Tiba-tiba anjing hitam itu sudah ada di sampingnya.

Kiyai Yazid segera mengangkat jubah kebesarannya. Tindakan tadi begitu cepatnya dan tidak jelas apakah karena  merasa khawatir jika jubahnya akan  terkena liur anjing itu. Tapi, betapa kagetnya sang Kiyai begitu ia mendengar si Anjing Hitam yang di dekatnya tadi memprotes, "Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apapun."

Mendengar suara si Anjing Hitam seperti itu, Kiyai Yazid masih terbengong, benarkah anjing ini bicara padanya? Ataukah itu hanya perasaan dan ilusinya semata? Sang Kiyai masih terdiam dengan renungan-renungannya.

Belum sempat bicara, si Anjing Hitam meneruskan celotehnya, "Seandainya tubuhku basah, engkau cukup mencucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, maka selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi (kesombonganmu), dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan air tujuh samudera sekalipun."

Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar suara si Anjing Hitam di dekatnya, Kiyai Yazid baru menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, ia bisa merasakan kekecewaan dan keluh kesah si Anjing Hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar, ia telah menghina sesama makhluk Tuhan tanpa alasan yang jelas.

"Ya, engkau benar Anjing Hitam," kata Kiyai Yazid, "Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih!"

Ungkapan Kiai Yazid tadi, tentu saja, merupakan ungkapan rayuan agar si Anjing Hitam mau memaafkan kesalahannya. Jikalau binatang tadi mau berteman dengannya, tentu dengan suka rela ia mau memaafkan kesalahannya itu.

"Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu, tetapi siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu sebagai raja di antara para mistik. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!" kata si Anjing Hitam dengan tenang.

Kiyai Yazid masih termenung dengan kesalahannya pada si Anjing Hitam. Setelah dilihatnya, ternyata si Anjing Hitam telah meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi itu. Si Anjing Hitam telah pergi dengan bekas ucapannya yang menyayat hati sang Kiyai.

"Ya Allah, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milik-Mu. Lantas bagaimana aku dapat bersama-Mu yang abadi dan kekal? Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhluk-Mu yang terhina di antara semuanya!" seru Kiyai Yazid kepada Tuhannya di tempat yang sepi itu.

Kemudian, Kiyai Yazid dengan langkah yang sempoyongan meneruskan perjalanannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke pesantrennya. Ia sudah rindu kepada para murid yang menunggu pengajarannya.
Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar