Jumat, 20 Juli 2012

Sifat Khumul (Tidak Suka Mencari Ketenaran)

Jika kita membahas riya', maka istilah khumul menjadi bagian yang tak terpisahkan. Khumul ialah sifat yang menandakan seseorang tidak mau terkenal, populer, dan tidak ingin mashur. Secara singkat, khumul berarti orang yang tidak suka mencari ketenaran. Khumul sangat berkaitan dengan hati dan niat seseorang dalam melakukan suatu perbuatan. Kiranya kita patut bertanya dalam hati secara jujur, apakah selama ini kita berlaku demikian?

Adapun riya' bermakna memamerkan diri dengan sengaja menampakkan amal agar perbuatan  baiknya diketahui khalayak ramai. Timbulnya riya' berawal karena seseorang ingin mencari tempat dihati orang lain. Sebab itulah riya' disebut suatu penyakit yang tertanam sebagai jaring terbesar bagi para setan. Ali bin Abi Thalib berkata, "Ada tiga tanda orang yang mempunyi sifat riya dalam beramal, yaitu malas mengerjakan amalan kebaikan jika sendirian, rajin jika bersama orang lain dan menambah-nambah amal jika ia dipuji tetapi menguranginya jika dicela."

Seperti kita ketahui bersama, kedudukan dan harta adalah dua faktor yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan sendi dunia. Sumber munculnya kemegahan adalah tersohornya nama baik dan kemashuran. Orang tertarik kepada harta karena hendak memiliki dan memanfaatkannya.Sedang orang tertarik kepada kedudukan sebab ingin dihormati, diagungkan dan ditaati. Orang-orang yang menginginkan kemegahan nama, biasanya akan berusaha mencari jalan untuk memperbudak orang lain.

Banyak cara yang dilakukan untuk mencapai puncak ketenaran. Diantaranya memberikan sumbangan atau membuat cara dengan mengundang media massa agar mempublikasikannya, menjual diri dan menggadaikan kehormatannya, bahkan terkadang mengumbar ayat-ayat al-Quran dan hadis nabi untukmengukuhkan posisi dirinya. Metode semacam ini sangat tidak dibenarkan oleh Islam. Rasulullah saw memang menganjurkan umatnya supaya banyak berbuat baik, namun tidak boleh menyombongkan diri setelahnya. Kalau pun orang lain tidak menyaksikan amal dan perilaku suci kita dalam kehidupan ini, kita mesti yakin bahwa Allah swt pasti melihat dan para malaikat akan mencatatnya sebagai bekal hidup di akhirat nanti.

Sejujurnya, bukan berarti tidak ada manfaatnya menjadi orang terkenal. Salah satu contoh, misalnya kita akan berbuat maksiat di suatu tempat. Mengingat orang lain sudah mengenal diri kita, maka kita mengurungkan niat karena malu. Secara tidak langsung, berarti tidak sedikit pihak yang menyorot tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Beranjak dari sini pula kita mesti memahami dan menyadari, bahwa ketenaran seseorang tidak boleh disalahgunakan oleh keluarga maupun teman dekatnya.

Orang yang gemar mencari ketenaran hidupnya tidak akan abadi, karena sifat popularitas tidak akan lama bertahan. Saat itu memang dia menyimpan kebanggaan tersendiri. Sayang, namanya hanya akan disebut ketika dia masih berkuasa. Namun jika mereka telah tiada, namanya redup seiring hilangnya wewenang yang menyertainya. Bagaimana dengan para nabi, wali, dan ulama yang menjadi terkenal? Apakah mereka tercela? Sesungguhnya yang tercela adalah mencari popularitas. Sedangkan mereka tidak punya keinginan terkenal. Mereka menjadi terkenal karena kehendak Allah swt sebab mereka telah berjuang menyebarkan agama-Nya secara ikhlas.

Al Fudlail bin Iyad berkata, "Jika engkau sanggup menjadi orang yang tidak terkenal, maka lakukanlah. Tidak celaka bagimu meskipun tidak terkenal. Tidak akan melarat bagimu meskipun tidak dipuji orang. Tidak akan sengsara hanya karena dihina orang, namun engkau terpuji di sisi Allah swt."

Sumber: Luman H, Majalah Hidayah, Tahun 3 Edisi 33


Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar