Senin, 27 Februari 2012

Jabatan, Posisi yang Penuh Jebakan

Rasulullah saw bersabda, "Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan, karena jika engkau diberi jabatan karena memintanya, niscaya engkau akan dibebani dengan hal itu, tapi jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya, engkau akan ditolong dalam menjalankannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat diatas ada kesan kuat yang mengindikasikan ketidaksukaan Rasulullah saw pada sifat rakus terhadap jabatan dan kekuasaan. Yang pertama, peringatan agar jangan mempercayakan jabatan terhadap orang kemaruk terhadap kedudukan.  Yang kedua, larangan yang lugas agar jangan meminta dan berambisi mendapat jabatan. Maksud dari 'Kami tidak menyerahkan jabatan terhadap orang yang menginginkannya' artinya terhadap orang yang mencari dan berambisi terhadapnya. Sebab dibalik ambisi pasti ada tendensi negatif yang harus diwaspadai.

Tentunya Rasullullah saw tidak bermaksud menjauhkan umatnya dari kepemimpinan, mematikan potensi sebagai pemimpin dan mendidik umatnya menjadi pribadi yang inferior dan pengekor, Beliau hanya ingin memperingatkan bahaya yang mengintai dalam jabatan dan kekuasaan. Tujuannya agar umat jangan sampai dirasuki virus hubbu ri'asah, cinta, dan ambisi mencari jabatan dan kedudukan. Sebuah ambisi yang sarat dengan kepentingan nafsu, meski sering disamarkan dengan propaganda mensejahterakan rakyat.

Peringatan beliau ini bersifat umum, baik jabatan dalam sistem daulah Islamiah, lebih-lebih jabatan dalam sistem di luar Islam. Sebab meskipun sistemnya Islam, tapi bagaimanapun, itu hanyalah sistem, yang menjalankan tetap manusia. Sistem bisa disiasati atau dilanggar dengan sembunyi-sembunyi. Masih mungkin ada korupsi dan penyalahgunaan jabatan untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Jabatan adalah posisi yang dikelilingi godaan. Ada banyak sekali celah bagi syaitan untuk memasang perangkapnya. Lubang paling besar adalah harta. Jabatan bisa menjadi wasilah untuk mengeruk harta, dan sebaliknya harta juga menjadi senjata sakti untuk meraih jabatan dan mempertahankannya. Seperti yang kita saksikan saat ini, rasanya hampir mustahil bisa jadi pejabat tanpa memiliki fondasi finansial yang kuat.

Kecil kemungkinan seorang pejabat tak menaruh pamrih soal harta. Sebab bagaimanapun jabatan akan menaikkan status rasa gengsi dan merasa lebih dibandingkan minimal bawahannya. Masih ditambah lagi  desakan anak dan isteri yang tentunya juga ingin menempatkan diri sebagaimana layaknya anak dan isteri pejabat. Maka terjadilah penyalahgunaan jabatan untuk mengeruk keuntungan. Walaupun tidak berbentuk korupsi, tetapi pengadaan fasilitas yang melebihi batas kebutuhan dengan alasan fasilitas dinas yang beranekaragam. Untuk ini, Iman Ibnu Jauzi dalam bukunya 'Talbisul Iblis' menjelaskan, para pejabat sering arogan dalam menggunakan harta dan menganggapnya baik dan berhak. Padahal dia hanya berhak mendapatkan harta sesuai kadar pekerjaannya dan tidak ada alasan untuk berlebihan.

Selain harta, jebakan yang lain adalah wanita, ambisi mempertahankan jabatan, dan sebagainya. Karena itu jika jadi pejabat, bentengi hati dan memperkuat kewaspadaan. Wallahua'lam.


Sumber Majalah Ar-risalah Vol.IX No.8






Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar