Jumat, 24 Februari 2012

Salah Kaprah Dalam Pendidikan Anak

Ibu merupakan salah satu aktor utama dalam keluarga yang berperan dalam pendidikan anak, disamping seorang bapak. Peran ibu dalam pendidikan anak di suatu keluarga tak dapat diremehkan begitu saja, sangat penting dan mesti dimaksimalkan peranannya. Berapa banyak tokoh umat dan 'orang besar' yang muncul karena hasil sentuhan pendidikan seorang ibu. Namun disini akan disorot dua pola pendidikan yang yang salah kaprah namun telah menggejala dan banyak diterapkan para orang tua.

Sikap Keras Yang Menindas
Ini berangkat dari asumsi yang keliru. Banyak para orang tua yang ingin mendisiplinkan anak dengan menyuguhkan kekerasan dalam interaksi dengan anak. Dalam pandangan mereka, pendidikan anak mutlak dengan kekerasan. Sikap tegas terhadap anak, yang dalam prakteknya sering dibumbui dengan perlakuan keras, ucapan kasar, atau mungkin pukulan, diyakini dapat menyemaikan kewibawaan orang tua di hadapan anak-anaknya. Kewibawaan orang tua akan membius anak untuk selalu tunduk dan patuh terhadap perintah orang tua. Ketika anak tak lagi memiliki pilihan lain kecuali tunduk dan patuh maka orang tuapun beranggapan telah sukses dalam mendidik anaknya.

Dalam kondisi seperti ini, hubungan orang tua dan anak menjelma menjadi pola hubungan atas-bawah. Orang tua laksana majikan yang memiliki wewenang penuh untuk mendikte anak. Sementara anak diposisi bawah bagaikan budak yang hanya bisa tunduk dan patuh. Anak benar-benar telah kehilangan sesuatu yang amat berharga bagi perkembangan jiwanya terutama di masa pertumbuhan, yakni kebebasan berekspresi dan keleluasan berkreasi.

Muhammad Rasyid Dimas dalam bukunya  'Siyasat Tarbawiyah Khathi'ah' menegaskan bahwaa pola kekerasan dalam pendidikan anak sangat berbahaya bagi jiwa anak, dan menjadikan anak merasa diintimidasi, dizalimi, dan ditindas sehingga menyebabkan luka di dalam jiwanya. Luka tersebut tidak akan hilang dalam waktu cepat, melainkan akan menempel kuat dan membuat parit yang dalam pada perasaan dan jiwanya. Dan itu akan menghambat proses perkembangan jiwa anak dan membuatnya menjadi orang yang introvert (tertutup), murung, merasa tidak aman, dan membenci diri sendiri, serta akan menumbuhkan sikap apriori, pembangkang, frustasi, pasif, dan permusuhan terhadap orang lain. Yang lebih parah lagi, hal itu akan memangkas rasa percaya diri dan motivasi anak sehingga anak mudah menjadi putus asa dan tidak memiliki semangat untuk maju.

Sikap Sayang yang Memanjakan
Sikap orang tua yang terlalu sayang dan cinta kepada anak dan memanjakannya akan menjadi sebuah perangkap yang berbahaya. Hampir semua tokoh pendidikan anak berpendapat bahwa memanjakan anak secara berlebihan merupakan sebuah kesalahan besar yang menyebabkan rapuhnya jiwa anak. 

Muhammad Rasyid Dimas menyebutkan beberapa dampak buruk pemanjaan terhadap anak yaitu:
1. Anak menjadi tidak mandiri dan tidak mau melakukan sesuatu kecuali bila mendapat bantuan orang lain;
2. Anak akan terus menerus minta perlindungan dan tidak mudah melepaskan diri dari orang tua;
3. Anak tidak memiliki kesadaran akan tanggung jawab;
4. Anak memiliki sikap egois dan posesif (selalu ingin memiliki);
5. Anak kurang memiliki rasa percaya diri dan tidak bisa membuat keputusan;
6. Anak tumbuh menjadi orang yang acuh tak acuh dan tidak mengindahkan aturan.

Jadi sebagai orang tua hendaknya menghindari dua pola asuh yang buruk tersebut. Pendidik yang cerdas ialah yang mampu bersikap tegas dan bersikap lunak secara bervariasi sesuai dengan pengetahuannya yang mendalam tentang jiwa anak-anaknya.

Sumber Majalah Ar-risalah Edisi 104
Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar