Rabu, 06 Juni 2012

Memaki Ibu

Kisah ini terjadi sewaktu aku masih di kelas 6 Sekolah Dasar. Suatu hari, kulihat ibu sedang bekerja. Lalu aku mendekatinya dan bertanya dengan perkataan yang agak keras, "Hari ini kita masak masakan apa sih bu?"

Lalu ibu menjawab, "Hari ini nak kita masak ikan asin dan sayur kangkung," jawab ibu dengan nada yang lemah lembut.

Setelah itu aku marah-marah dan berkata, "Sayur kangkung melulu sih, aku kan enggak suka, aku enggak makan kalau lauknya itu." Lalu aku berkata pada adikku yang paling kecil, "Tolong belikan kakak telor sama mie goreng, kakak mau makan nih!" dengan nada tinggi, lalu aku lanjutkan, "Kalau enggak aku akan memukulmu sampai nangis!"


Setelah itu, ibu menasehatiku dan berkata, "Enggak usahlah nak, kita kan orang miskin, makan sajalah apa yang ada, ya?"

Setelah itu ibu beristirahat dan adikku pergi main ke rumah tetangga sebelah. Kesempatan baik itu tidak kusia-siakan, aku sengaja menunggu ibu sampai benar-benar tidur. Aku teringat akan uang yang disimpan ibu di bawah lipatan baju. Lalu aku mengambilnya, dan berencana membelanjakannya ke warung untuk membeli telor dan mie goreng. Aku sangat gembira karena makanan yang enak aka aku rasakan lagi. Aku pergi lewat jalan belakang rumahku, aku lupa bahwa dibelakang rumahku banyak terdapat kaca-kaca pecah dan duri-duri pohon kayu. Tanpa sengaja aku meloncat dan kakiku terkena sebuah tusukan duri yang sangat dalam dan tajam. Pada saat itu, bisa dibayangkan betapa sakitnya.

Selang beberapa hari, duri yang melekat di kakiku tidak bisa dicabut. Yang anehnya lagi, semakin aku ingin membuang duri tersebut, seolah-olah semakin masuk ke dalam kakiku. Yang lebih sakit lagi, tusukan duri tersebut membuat kakiku membengkak dan bernanah bercampur dengan darah.

Suatu sore, ibu memanggil dan bertanya kepadaku dengan pertanyaan yang lembut, "Mengapa kakimu memmbengkak, duhai anakku?"

Ternyata, pertanyaan itu tiba-tiba menyentuh di dalam hatiku. Aku terdiam sejenak. Setelah beberapa menit kemudian, aku menceritakan sebab kakiku menjadi bengkak seperti itu. Aku menyesal dan meminta maaf kepada ibu, dan dengan tulus ibu memaafkan.

Beberapa hari kemudian, lukaku mulai mengering dan mulai sembuh hingga aku dapat berjalan seperti semula. Demikianlah cara Allah menegurku.

Kisah dari Yusmaliani, Selat Panjang, Riau, dalam Majalah Sabili Tahun 4 Edisi 42
Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar