Rabu, 05 September 2012

Adab dan Etika Dalam Berbicara

1. Hendaknya pembicaraan selalu di dalam kebaikan. Allah swt berfirman yang artinya, "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma'aruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia." (QS. An-Nisa: 114).

2. Hendaknya berbicara dengan suara yang dapat didengar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah. Ungkapannya jelas dapat dipahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksakan.


3. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna. Hadis Rasulullah saw menyatakan, "Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

4. Janganlah Anda membicarakan semua yang Anda dengar. Abu Hurairah didalam hadisnya menuturkan, Rasulullah telah bersabda, "Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membiacarakan semua yang telah ia dengar." (HR. Muslim).

5. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kamu berada di pihak yang benar, dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah saw bersabda, "Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga, bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar, dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda." (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

6. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah ra telah menuturkan, "Sesungguhnya Nabi apabila membicarakan sesuatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat mengihitungnya." (Muttafaq 'alaih).

7. Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara didalam pembicaraan. Didalam hadis Jabir disebutkan, "Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih, dan orang-orang yang mutafaihiqun." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa artinya mutafaihiqun? Nabi menjawab, "Orang-orang yang sombong." (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh l-Albani).

8. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah berfirman yang artinya, "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujarat: 12).

9. Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak mengganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.

10. Jangan memonopili dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

11. Menghindari perkataan kasar, keras, dan ucapan yang menyakitkan perasaan, dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan, dan pertentangan.

12. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok, dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah berfirman yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan)." (QS. Al-Hujarat: 11).

Sumber: Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari. Yayasan As-Sofwa, Jakarta.
Share

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar